Miracle: Letters to the President adalah film yang terasa biasa di awal tetapi seiring waktu berjalan kita semakin hanyut dalam kisahnya. Ada momen-momen kecil yang membuat kita tertawa terbahak-bahak dan juga momen sedih yang membuat patah hati. Film korea ini seperti paket komplit yang memberikan kita perspektif tentang romantisme cinta pertama, ikatan keluarga, dan kisah haru yang getir.

Film ini membawa kita menyelami cerita yang disajikan dengan cara yang menyenangkan. Kita diajak untuk mengupas sedikit demi sedikit kisah diantara para pemerannya, lalu ada twist yang menjadi kejutan yang cukup mengagetkan. Tidak ada sosok penjahat yang menyebabkan konflik mengerikan dalam film ini. Alurnya pas dan rasa humor yang ditaburkan di sepanjang film membuat film ini menyenangkan untuk ditonton.

Film ini terisnpirasi oleh sebuah kisah nyata tentang Stasiun Yangwoon, Stasiun Swasta pertama di Korea. Sebuah desa terpencil yang tidak memiliki akses jalan dan hanya mengandalkan Kereta Api.

Untuk film Miracle: Letters to the President latarnya terjadi di sebuah Kota kecil yang masih asri, dan seluruh view yang ditampilkannya membawa penonton untuk nostalgia kembali ke tahun 1980-an. Ini adalah salah satu film unik yang membuat penonton menginginkan lebih ketika sudah selesai. Ini adalah film yang sangat sangat sangat indah, baik dari segi sinematik maupun emosi yang ditampilkannya.

Plot Film Miracle: Letters to the President

Drama ini memiliki plot yang bagus, dan eksekusinya sangat pas sehingga kita bisa benar-benar menikmatinya. Plotnya memang tidak terlalu dalam atau luar biasa, tetapi cara mereka mengembangkan plot dan cara membuat penonton mengubah pandangan mereka tentang keseluruhan film adalah bagian yang menakjubkan. Yang tadinya memandang sebelah mata, kemudian tersenyum karena merasa terpuaskan dengan kisah yang ditampilkan.

Miracle: Letters to the President terinspirasi oleh kisah kehidupan nyata di balik pendirian Stasiun Yangwon, stasiun kereta api swasta pertama di Korea yang dibuat oleh penduduk setempat pada tahun 1988.

Film ini dimulai dengan lebih banyak sisi komedi yang lucu dan segar, tetapi seiring berjalannya waktu hingga pertengahan film suasana mulai berubah, roller coster emosi dimulai. Saya tidak akan mengatakan terlalu banyak untuk menghindari spoiler, tapi percayalah walaupun diawali oleh adegan ringan dan lucu film ini adalah film “drama” yang intens.

Miracle: Letters to the President mengisahkan seorang anak laki-laki jenius yang memiliki hati yang hangat. Jun Kyung, siswa SMA, ia ingin membangun stasiun kereta api di desanya. Karena begitu terpencil, satu-satunya akses menuju menuju ke kota adalah rel kereta api.

Sebelumnya mereka harus melewati terowongan dan jembatan kereta. Yang membuatnya semakin berbahaya adalah adanya kereta barang yang melintas dengan jadwal tidak menentu. Mengingat jadwal kereta yang tidak dapat diprediksi, perjalanan terkadang dapat berakhir dengan tragedi. Film ini menceritakan dedikasi Jun Kyung dan penduduk kota untuk membangun perhentian kereta api di kota mereka dengan mengirimkan lebih dari 50 surat ke Blue House.

Pemeran Film Miracle: Letters to the President

Pada awalnya, saya pikir Park Jung Min dan Yoona adalah dua pemeran utama lalu Lee Sung Min dan Lee Soo Kyung sebagai pemeran pendukung. Di awal film Park Jung Min dan Yoona memiliki lebih banyak waktu untuk terlihat. Namun, seiring berjalannya film, karakter Lee Sung Min dan Lee Soo Kyung memiliki peran dan waktu yang lebih besar, dan pada akhirnya keempatnya memiliki jumlah signifikansi yang kurang lebih sama.

Empat pemeran utama memiliki chemistry yang luar biasa, dan saya sangat menikmati hubungan antara Park Jung Min dan Yoona, dan Park Jung Min dan Lee Soo Kyung. Itu seperti menonton pasangan dan saudara kandung di kehidupan nyata.

Pada awalnya agak canggung melihat Park Jung Min yang berusia 34 tahun berperan sebagai siswa sekolah menengah. Namun ia perlahan-lahan menyatu dalam karakter itu seiring berjalannya film. Dia melakukan akting yang sangat baik dalam menggambarkan emosi kompleks Jun Kyung, seperti rasa bersalah dan kesedihan, di balik penampilannya yang polos.

Yoona seperti tidak menua, dia masih sama cantiknya seperti ketika dia pertama kali debut dengan Girls ‘Generation 14 tahun yang lalu. Aktingnya menjadi jauh lebih baik, Yoona berhasil memerankan Ra Hee si gadis kota. Chemistry-nya dengan Jung Min benar-benar terlihat apik.

Lee Seong Min, yang mengungkapkan kehadirannya di paruh kedua film, menampilkan sosok ayah yang blak-blakan namun memiliki hati yang lembut. Perubahan sikapnya dari seorang ayah yang tidak peduli dan dingin menjadi seorang ayah yang hangat benar-benar menularkan aura positif ke penonton.

Last but not least, Lee Soo Kyung mengambil peran yang paling menantang dan membuat penonton meneteskan air mata dengan hatinya yang murni. Sebelumnya ia hanya mengisi peran-peran kecil di drama dan film. Dan nyaris tidak pernah di ingat perannya. Dalam film ini dia meninggalkan kesan yang baik. Lee Soo Kyung tampak alami dalam karakter ini dan membuat filmnya jauh lebih baik.

Garapan Sutradara Lee Jang Hoon

Sutradara Lee Jang Hoon sepertinya mengenal betul formula film yang menampilkan hubungan hangat antar keluarga. Sebelumnya ia menyutradarai Film “Be With You” yang dirilis tahun 2018. Film ini sukses membuat penonton tertawa dan menangis dengan kisah keluarga yang menyentuh hati yang ditampilkannya.

Lahir pada tahun 1973, Lee Jang-hoon awalnya mengambil jurusan ilmu komputer, dan tidak berkecimpung dalam industri film sampai usia 30-an. Setelah pertama kali mengerjakan skenario asli yang gagal, produsernya bertanya apakah ada karya yang ingin dia adaptasi menjadi film. Lee ingat pernah membaca novel Jepang Be with You dan menyarankan kepada produsernya. Dirilis pada Maret 2018, film debut Lee Be with You ditayangkan perdana di Eropa dalam Festival Far East 20.

Kesimpulan.

Jika kamu sedang mempertimbangkan apakah akan menonton film ini atau tidak, sebaiknya kamu harus mencobanya. Film ini sangat indah yang menggabungkan romansa, komedi, dan momen-momen yang menguras air mata, terutama menjelang akhir film. Dan yang terpenting dari semuanya adalah, memiliki ending yang bahagia.