BERBAGI

Kala itu hari Sabtu pagi. Waktu dimana para warga Korea menikmati  weekend. Sabtu pagi itu terasa sangat damai. Kala matahari pagi muncul di timur. Tak pernah ada yang menyangka jika Sabtu pagi yang damai itu akan berubah menjadi Sabtu yang tak pernah dilupakan oleh warga Korea.

1

Kang Jooran tengah menikmati waktu liburnya bersama dengan putranya Donghwa. Mereka berdua sedang menuju ke supermarket. Jooran mendapat telp dari kekasihnya, Goo Ja Hyuk. Mereka berdua berencana untuk makan siang dengan Donghwa. Jahyuk meminta ijin kepada Jooran bahwa dia mungkin akan terlambat karena ada meeting dadakan di kantor.

2

Goo Ja Hyuk dan timnya membahas biaya yang akan mereka luncurkan untuk perbaikan Distrik Younggwang akibat jatuhnya Crane. Ja Hyuk menyayangkan sikap perusahaan yang bimbang akan jumlahnya uang yang menurutnya sedikit itu.

3

Park Gun dan Han Woojin berpapasan di escalator. Park Gun menanyakan mengapa dr. Han berada di RS meskipun sekarang hari Sabtu. Han Woo Jin menjawab bahwa ada yang harus ia kerjakan.

4

Mr. Kim sedang mengamen di kereta bawah tanah. Di dekatnya ada seorang gadis kecil yang sedng berbicara dengan rekannya. Gadi kecil itu tidak dapat berbicara. Dia berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat. Mereka tertawa  mendengar cara Mr. Kim  bernyanyi.

5

Kedatangan Woo Jin di RS ternyata hanya untuk tidur. Sementara Park Gun sedang berlatih golf di ruangannya.

6

Semuanya terasa seperti biasa sebelum akhirnya Haesung menyadari sesuatu. Dia melihat bahwa pelangi terlihat lebih besar dari biasanya. Ddolmi mengikuti langkah Haesung dan juga menatap langit.

7

Tiba – tiba angin berhembus dengan kencang. Daun – daun di pepohonan pun bergerak dengan cepat. Haesung menatap ke atas pohon dan daun- daun di pohon itu bergerak lebih kencang daripada biasanya. Selokan air di bawah Ddolmi juga ikutan bergetar. Ddolmi melangkah menjauh. Haesung dan Ddolmi  saling berpandangan. Tiba- tiba air menyembur dari lubang tsb. Kaca akuarium di ruangan Park Gun pun ikut retak.

8

Guncangan dahsyat pun terjadi. Di supermarket tempat Jooran dan Donghwa berada, barang – barang mulai berjatuhan dari raknya. Haesung juga merasakan getaran itu semakin dahsyat. Rumah Sakit, perkantoran, Supermarket, Kolam renang semuanya bergetar kencang. Barang – barang di sekitar mereka terjatuh. Seketika keadaan menjadi kacau balau. Getaran ini juga dirasakan oleh para penumpang kereta api bawah tanah. Tiba – tiba kereta api berguncang dengan hebat. Para penumpang pun saling bertubrukan satu sama lain.

9

Begitu juga dengan Jahyuk dan timnya yang sedang melakukan meeting. Guncangan tsb sangat terasa oleh mereka. Tak sedikit orang yang terluka karena tertimpa barang atau terbentur benda keras. Getaran tak berhenti sampai situ, Jooran segera menggendong Donghwa dan keluar dari supermarket. Di luar supermarket keadaan lebih kacau. Orang – orang berlari menyelamatkan diri. Mobil – mobil tak mampu dikendalikan dan akhirnya saling bertabrakan. Jooran melihat ke atas gedung. Perlahan tapi pasti, gedung itu akan segera runtuh.

10

Jooran segera masuk ke mobil dan meminta Donghwa untuk memakai sabuk pengaman. Namun naas, Jooran juga tak dapat mengendalikan mobilnya. Mobilnya ditabrak dari 2 arah, dan hal itu menyebabkan Jooran tak sadarkan diri.

Tim 119 bersiap untuk membantu. Mereka sudah mengerahkan pasukan untuk keadaan darurat ini. Sangho ,sempat melihat deretan gedung yang runtuh di belakangnya. Gempa tsb tidak main – main.

11

Jahyuk sedang menyelamatkan dirinya dengan bersembunyi di bawah meja. Namun dia melihat rekannya yang sudah tak berdaya karena kepalanya penuh darah dan terbentur. Akhirnya Ja hyuk berjalan merangkak dan menarik rekannya itu untuk berlindung bersamanya.

12

Hal serupa juga terjadi di RS. Mirae. Semua barang – barang berjatuhan. Pasien kalap. Mereka berteriak – teriak minta tolong. Sementara para dokter sendiri juga bingung menyelamatkan diri. Mereka sampai saat ini masih belum mengetahui apa yang terjadi.

13

Kota Seoul bergejolak. Tak hanya di darat, di laut pun ikut murka.Jembatan juga ikut roboh. Tak sedikit mobil yanag menjadi korban.

14

Tak lama, Ddolmi melihat gedung yang ada di belakang Haesung runtuh…….

15

Dan ini yang paling dahsyat. Guncangan gempa tsb mampu membuat Namsan Tower pun ikut ambruk…….

16

 

Kota Younggwang  porak –poranda. Yang tersisa setelah itu hanya runtuhan bangunan dan korban yang berjatuhan. Haesung dan Ddolmi juga berusaha melindungi diri mereka dan mereka pun berada di tanah. Diantara reruntuhan di sekitarnya. Haesung bangkit dan melihat kondisi di sekitarnya. Kacau. Banyak orang yang tertimpa runtuhan bangunan dan belum ada yang menolong sama sekali. Mobil, gedung sudah tak berbentuk lagi seperti layaknya.

17

Begitu juga dengan Ddolmi. Keadaan di sekitarnya sangat memprihatinkan. Terlihat seorang wanita yang sedang berusaha menyelamatkan para muridnya keluar dari bus sekolah. Padahal kondisi guru wanita itu juga menyedihkan. Bajunya compang – camping dan darah mengalir di dahinya. Ddoli juga melihat seorang gadis yang terluka, terduduk diantara reruntuhan. Apa yang telah terjadi sebenarnya?

16

Haesung mendengar ada yang meminta tolong. Dia dan Ddolmi kemudian menghampirinya. Seorang wanita yang sedang mengandung 8 bulan terjebak di dalam mobil dan tak dapat keluar. Wanita iu sepertinya mengalami shock atas apa yang baru saja terjadi. Tangannya tak bisa digerakkan.

17

Dengan berbagai cara yang dilakukan oleh Haesung untuk bisa menyelamatkan wanita tsb. Memecahkan kaca, dan mengangkat ibu hamil itu dari jendela akhirnya sang calon ibu itu selamat.

18

Jooran tersadar dari pingsannya. Keningnya berdarah, namun sepertinya tak dirasakan oleh Jooran. Dia teringat oleh Donghwa, putra semata wayangnya. Di saat dia menoleh ke belakang, Donghwa telah menghilang, entah kemana. Jooran langsung berlari keluar mobil dan memanggil anaknya. Namun nihil. Donghwa tak terlihat di manapun dia berada.  Jooran menemukan mainan Donghwa yang terjatuh. Dirinya seketika histeris meneriakkan nama Donghwa.

19

Haesung berusaha memeriksa keadaan ibu hamil Dia merasakan bahwa denyut nadinya berdetak lebih cepat daripada keadaan normal. Haesung merasa dia tidak dapat menolong si calon ibu itu. Dirinya sama sekali tak mengerti soal kandungan. Haesung mengusulkan untuk membawa si wanita itu ke RS yang lebih besar agar bisa lebih akurat untuk pemeriksaannya. Sang suami merasa tak mungkin membawa keadaan sang istri dalam kondisi seperti itu. Haesung sangat menyesal dan meminta maaf bahwa dirinya benar – benar tak dapat membantu.

20

Haesung berjalan menjauh dan diikuti oleh Ddolmi. Ddolmi menarik lengan haesung dan bertanya, “ Apakah tak apa – apa meninggalkan mereka dengan keadaan seperti itu? “ . Haesung mengatakan bahwa akan lebih baik jika mereka di tangani oleh ahlinya langsung. “ Kita harus pergi ke ruang ICU rumah sakit kita. “ kata Haesung.

21

Kekacauan juga terjadi di RS. Mirae. Han Woojin meminta semua dokter dan perawat untuk mengecek keadaan pasien mereka.

22

Park Gun masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Dia mengambil miniature kapal lautnya yang sudah rusak. Kemudian dirinya berteriak memanggil nama asistennya.

23

Ddolmi dan Haesung tiba di RS. Hangang. Hampir sama seperti keadaan diluar. Kondisi RS. Hangang tak lebih menyedihkannya. Lampu mati, bangku dan meja beserakan dimana – mana.

24

Haesung segera berlari ke ruang ICU. Dirinya bernafas lega setelah melihat Park Ji Na ada disana. “ Darimana saja kau ? Sesuatu bisa saja terjadi jika itu bukan aku. “ kata Jina.

25

Haesung berterima kasih pada Jina karena telah menyelamatkan nyawa si Menteri kesehatan. “ Bagaimana bisa aku hidup tanpamu ? “ kata Haesung. Jina tersenyum. Jina bertanya tentang apa yang sudah terjadi? Mengapa RS berguncang sangat hebat?. Haesung menjawab bahwa dirinya sendiri juga tidak tahu. Dia akan mencari tahunya nanti. Dia berpamitan kepada Jina untuk melihat kondisi ibunya.

26

Haesung tak mendapati ibunya di tempat tidur. Dia terus memanggil nama ibunya. Haesung melongok ke bawah kasur dan menemukan ibunya terjatuh !

27

Haesung mengangkat ibunya ke tempat tidur dan segera memeriksa keadaan ibunya. Haesung terlihat sangat panic dan khawatir.

28

Haesung memeriksa denyut nadi ibunya dan dirinya bernafas lega. Sangat lega. Ibunya masih hidup. “ Terima kasih untuk tidak terluka ibu…Kau tidak boleh pergi….” Kata Haesung sambil memeluk ibunya.

29

Ddolmi yang sedang mencari Haaesung, melihat adegan ibu dan anak ini. Ddolmi tak ingin menganggu Haesung dan menunggu di luar .

30

Ddolmi melaporkan pada Haesung bahwa pasien di RS tsb baik – baik saja. Mereka hanya mengalami shock karena goncangan hebat. Haesung mengajak Ddolmi untuk membersihkan salah satu ruangan di bawah untuk ruangan operasi. Dia megatakan akan banyak pasien yang datang. Ruang operasi ada di lantai 2 dan itu akan kesulitan untuk di jangkau. Jadi Haesung meminta Ddolmi untuk merubah ruangan tsb menjadi ruangan operasi.

31

Haesung kembali ke ruangan ICU. Jina bertanya kapan listrik akan kembali aktif, karena pasien sangat membutuhkan alat yang membutuhkan listrik. Haesung sendiri tidak tahu. Dia mencari asisten Kim HyunSuk. Dia ingin menanyakan apa yang terjadi. Listrik padam, ponsel tak berfungsi, dan air pun tak keluar. Setidaknya harus ada orang yang membantu mereka.

32

Kim Hyun Suk datang. Dia mengatakan dengan raut wajah yang sedih bahwa tak aka nada orang yang datang dan membantu mereka. “ Telah terjadi gempa bumi. Gempa bumi yang menimpa  Seoul…”

33

Kang Jooran berjalan dengan bertelanjang kaki. Pikirannya kosong. Dia telah kehilangan anak satu – satunya. Bahkan di saat kakinya menginjak pecahan kaca, Jooran pun tak merasakannya. Tatapannya sendu. Di sekitarnya banyak ibu – ibu yang sedang menolong anaknya yang terluka. Jooran berharap bisa menemukan Donghwa dengan segera.

34

Goo  Ja hyuk meminta timnya untuk segera mengecek kondisi Younggwang pasca terjadinya gempa. Dia sudah mendapat informasi bahwa gempa yang terjadi di Seoul itu dengan skala 6,5 SR. Goo JaHyuk menginjak pecahan kaca dan menatap atap kaca yang pecah diatasnya.. “ Seharusnya aku membenci langit…atau malah berterima kasih ?? “

35

Haesung, Jina, Ddolmi dan perawat Hyun Suk sedang mendengarkan radio. Benar saja gempa dengan skala 6,5 SR baru saja mengguncang kota Seoul. District Younggwang juga terkena imbas dari efek gempa bumi tsb. Dijeaskan juga bahwa gempa bumi inni adalah gempa bumi terbesar yang pernah tejadi di Korea. Setelah gempa bumi ini pun, pasokan listrik serta air ke Younggwang tertunda. Hyun Suk mengkhawatirkan kondisi bangunan RS yang sudah rapuh. Haesung dan Jina mengkhawatirkan menteri kesehatan yang tengah koma setelah operasi ginjalnya. Pasien itu membutuhkan alat dengan listrik untuk membantu masa pemulihannya. Akan sngat berbahaya jika tak ada pasokan listrik.Ddolmi meminta untuk pasien dipindahkan. “ Tentu saja dia harus dipindahkan…Namun jika pasien lain datang ke sini….” . Seakan mengerti ,aksuda ucapan dari Haesung, Hyun Sook langsung memotong perkataan Haesung. “ Kita harus segera menolak mereka. Sebuah RS yang hanya digunakan untuk medical Check up dan tidak mempunyai ruang emergency, bagaimana kau bisa menerima pasien yang lain ? “ suara Hyunsuk terdengar frustasi. Dengan prinsipnya yang tak pernah menolak pasien sebelum berusaha, Haesung menjawab bahwa di sana ada dokter dan perawat. “ Jadi lakukanlah yang terbaik…” jawab Haesung. Kim Hyun Suk makin terlihat stress.

Screenshot_2015-10-07-20-18-05

Sementara itu di markas 119, semua anggota terlihat sibuk. Pasalnya semua listrik mati. Sambungan telepon juga terputus. Dan itu sangat menyulitkan kinerja mereka sebagai tim penyelamat. Mereka berusaha melakukan apa yang mungkin untuk bisa menyelamatkan warga Korea.

Screenshot_2015-10-07-20-19-05

Kapten Sangho menegur anak buahnya yang hanya terduduk diam, padahal banyak kobaran – kobaran api kecil yang harus dipadamkan. Anak buahnya menjawab bahwa mereka tak bisa mendapatkan air karena tidak ada pasokan air sama sekali. Mereka sudah mencoba untuk menjebol Hydrant tapi nihil. Karena gempa bumi yang terjadi, pasokan air pun terhenti sama sekali. Bahkan tak ada jalan keluar untuk mereka. Jalan mereka terblok dan tidak bisa melakukan apa – apa. Sangho merasa frustasi karena sebagai regu penyelamat mereka tak bisa melakukan apapun.

Screenshot_2015-10-07-20-19-25……………………………………………….